Now Playing Tracks

Eni, “Preman Cantik” Pasar Mayestik

Kiki Isbianto
www.kompasiana.com/kiki.isbianto

Sekitar tahun 80-90an, di kawasan Blok M Jakarta Selatan, dikenal sosok Mariyam. Entah gila beneran, entah belagak gila, Mariyam Blok M ini kerjanya minta uang kepada siapa pun yang ditemuinya. Pernah sekali nunggu teman sholat Maghrib, di depan mushola Pasar Blok M lama, sekarang sudah berubah menjadi Blok M Square. Mariyam dengan santai sambil senyum-senyum menghampiri, “Bagi duitnya !” tegas suaranya. Sudah gila, preman juga Mariyam ini.


Menghadapinya jangan takut, panik atau marah, ikuti saja gayanya, senyum-senyumnya, lalu tegas juga menjawab, “Gak ada!” Dia tidak maksa lebih lanjut. Mungkin dia berpikir, “Sama gila & premannya juga ini orang!”

Berbeda dengan tampilan kostum Mariyam nan compang-camping tak terawat, pada tahun 2013 ini di seputaran Pasar Mayestik Jakarta Selatan, Eni setiap hari beroperasi dengan dandanan modis, bersih wangi, full make-up dan berjilbab. Profesi mereka mirip. Tiap hari Eni menyantroni los-los pasar, menawarkan jasa pijat ala kadarnya, jasa ekspedisi a.k.a kurir alias jasa beli-antar kepada pemilik atau penjaga los. Tarif yang diminta Rp2.000,- per transaksi.

Eni paham baca tulis dan pandai berhitung. Jika pemilik los minta dibelikan sayur, misal seharga Rp5.000,-. Eni akan menagihnya Rp7.000,-. Bila uang yang diberikan melebihi jumlah tersebut, dengan jujur Eni mengembalikan sisanya.

Di luar bulan Ramadhan, Eni kadang minta dibelikan makan. Misal pada hari Jum’at tertentu dia minta makan siang Nasi Padang lauk ayam pada seorang pemilik los. Hari lainnya, dia minta menu lain lagi dari pemilik los yang lain. Jadi bergilirlah para pemilik los menyantuni makan siang Eni. Mungkin selama Ramadhan ini, Eni minta dibelikan tajil buka, mungkin juga minta THR. Tapi rasanya Eni tidak akan mengajukan proposal THR seperti yang disebarkan ormas tertentu serta mendatangi rumah ke rumah.

Karena penampilan modis, bersih dan tidak menakutkan, kebanyakan pemilik atau penjaga los, secara ikhlas atau mungkin juga terpaksa, memakai berbagai jasa yang Eni tawarkan.
Mariyam, juga Eni, bekerja mandiri. Mariyam malak setiap orang, Eni hanya mendatangi pemilik atau penjaga toko. Dan diakhir hari kerja, tidak ada boss yang nunggu setoran mereka. Hanya sering mereka berdua kena rayuan gombal tukang parkir, pengumpul sampah, pengamen, bahkan mungkin preman pasar yang setoran ke bosnya belum mencukupi. Perayu gombal ini tidak minta jatah pada mereka, hanya pinjam. Namun, batas pengembalian pinjaman ini, hanya Tuhan dan si peminjamlah yang tau.

Disadur : http://jakarta.kompasiana.com/sosial-budaya/2013/08/04/eni-preman-cantik-pasar-mayestik-582111.html

To Tumblr, Love Pixel Union